Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Pasar Bekas Jadi Cerminan Kekhawatiran Konsumen, Minat Mobil Listrik Turun di Singapura

14
×

Pasar Bekas Jadi Cerminan Kekhawatiran Konsumen, Minat Mobil Listrik Turun di Singapura

Sebarkan artikel ini
Example 468x60


Sabtu, 28 Februari 2026 – 01:24 WIB

Example 300x600

Jakarta, VIVA – Tren mobil listrik yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan lonjakan pertumbuhan kini mulai menghadapi fase evaluasi. Studi terbaru di Singapura memperlihatkan adanya penurunan minat konsumen terhadap kendaraan listrik, meski negara tersebut dikenal memiliki kesiapan infrastruktur yang relatif baik.


img_title


Mobil SUV Ini Pilih Hybrid dan Bensin Ketimbang Listrik

Laporan EY-Parthenon bertajuk Mobility Consumer Index (MCI) 2025 mencatat minat terhadap mobil listrik di Singapura turun dari 73 persen menjadi 58 persen. Meski angka tersebut masih lebih tinggi dibanding rata-rata global sebesar 43 persen, penurunan ini menunjukkan munculnya sikap yang lebih realistis dalam menimbang keputusan pembelian.

 


img_title


Ada Aturan Baru bagi Pengemudi yang Menolak Menepi

Secara global, sebanyak 50 persen responden bahkan menyatakan kemungkinan kembali membeli kendaraan bermesin pembakaran internal. Studi tersebut menilai perubahan ini sebagai refleksi konsumen yang lebih berhati-hati terhadap total biaya kepemilikan dan faktor kenyamanan.

Infrastruktur dan Waktu Pengisian Masih Jadi Tantangan


img_title


Daftar Mobil Kia 2026, Mana yang Paling Worth It?

 

Di Singapura, 56 persen responden mengaku khawatir terhadap kualitas charger publik dan interoperabilitasnya. Walaupun rasio SPKLU telah mencapai 1:3, konsumen menilai pengalaman penggunaan belum sepenuhnya ideal.

 

Sementara itu di Indonesia, pertumbuhan justru terlihat agresif. Data GAIKINDO menunjukkan penjualan mobil listrik sepanjang 2025 mencapai 103.931 unit. Namun jumlah SPKLU aktif per Desember 2025 baru 4.778 unit di 3.093 lokasi atau sekitar 1:21. Ketimpangan ini berpotensi menimbulkan antrean, terutama saat periode mobilitas tinggi seperti libur panjang dan mudik.

Depresiasi dan Biaya Baterai Jadi Pertimbangan

 

Selain infrastruktur, kekhawatiran lain yang banyak muncul adalah potensi biaya penggantian baterai setelah masa garansi berakhir. Baterai merupakan komponen paling mahal dalam mobil listrik, dan ketidakpastian biaya ini turut memengaruhi persepsi nilai jual kembali.

 

Di titik inilah pasar kendaraan bekas menjadi indikator penting. Sebagai salah satu marketplace otomotif terbesar di Indonesia, OLX Indonesia memotret dinamika tersebut melalui pergerakan harga dan pencarian unit di segmen mobil listrik bekas. Konsumen tidak hanya melihat usia kendaraan, tetapi juga memperhitungkan risiko depresiasi dan biaya kepemilikan jangka panjang.

 

Salah satu contoh yang cukup disorot adalah Hyundai ioniq 5. Model yang meluncur pada 2022 di rentang harga Rp718 juta hingga Rp829 juta tersebut kini di pasar sekunder banyak ditawarkan pada kisaran Rp350 juta sampai Rp480 juta untuk unit produksi 2022–2023. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan teknologi dan persepsi daya tahan baterai.

Halaman Selanjutnya





Source link

Example 300250
Example 120x600