Rabu, 1 Juli 2026 – 00:45 WIB
Jakarta, VIVA – Uni Eropa mulai mencairkan dana tahap pertama untuk mendukung pengadaan pesawat nirawak atau drone militer bagi Ukraina. Pendanaan tersebut menjadi bagian dari komitmen Uni Eropa dalam memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Rusia.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan bahwa dana sebesar 3,9 miliar euro atau sekitar Rp79 triliun telah mulai ditransfer pada Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut von der Leyen, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan dan pengadaan teknologi drone canggih bagi Ukraina.
“Hari ini, kami menyalurkan dana tahap pertama sebesar 3,9 miliar euro untuk teknologi drone canggih guna memperkuat pertahanan Ukraina. Dana lebih lanjut akan menyusul,” ujar von der Leyen melalui akun media sosial X.
Bagian dari Komitmen Rp122 Triliun
Pencairan dana sebesar 3,9 miliar euro merupakan tahap awal dari total komitmen 6 miliar euro atau sekitar Rp122 triliun yang sebelumnya dijanjikan Komisi Eropa untuk pembelian drone militer Ukraina.
Komisi Eropa menjelaskan sisa pendanaan akan segera dikirim dalam beberapa hari ke depan seiring proses administrasi atas permintaan yang diajukan pemerintah Ukraina.
Dengan demikian, bantuan tersebut akan disalurkan secara bertahap hingga seluruh nilai yang dijanjikan terpenuhi.
Masuk Paket Bantuan Lebih Besar
Program pendanaan drone militer tersebut merupakan bagian dari paket pembiayaan kredit Uni Eropa untuk Ukraina.
Secara keseluruhan, Uni Eropa telah menyetujui paket pembiayaan senilai 90 miliar euro untuk periode 2026–2027.
Program tersebut ditujukan untuk mendukung berbagai kebutuhan Ukraina, termasuk sektor pertahanan di tengah konflik yang masih berlangsung.
Rusia Kembali Kritik Bantuan Senjata Barat
Di sisi lain, Rusia kembali menyuarakan penolakannya terhadap bantuan militer yang diberikan negara-negara Barat kepada Ukraina.
Moskow berulang kali menyatakan bahwa pengiriman senjata dan perlengkapan militer ke Ukraina justru menghambat upaya penyelesaian konflik.
Pemerintah Rusia juga menilai dukungan tersebut membuat negara-negara anggota NATO semakin terlibat secara langsung dalam konflik.
Kremlin sebelumnya menyebut pasokan senjata dari negara-negara Barat kepada Ukraina telah menjadi salah satu faktor yang menghambat proses perundingan damai antara kedua pihak.












