Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Bongkar Desain ‘Made in’ AI Lewat Tatapan Mata

5
×

Bongkar Desain ‘Made in’ AI Lewat Tatapan Mata

Sebarkan artikel ini
Example 468x60


Sabtu, 2 Mei 2026 – 04:02 WIB

Example 300x600

Jakarta, VIVA – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) telah mentransformasi dan mengubah lanskap industri di Indonesia. Teknologi ini mampu menciptakan peluang baru, tetapi juga tantangan yang kompleks.


img_title


Daikin Pilih Jalur yang Berbeda

Kendati AI berkembang pesat dan memudahkan pembuatan desain serta pemecahan masalah teknis, namun teknologi ini belum bisa menggantikan sepenuhnya kemampuan manusia.

“Kemampuan manusia dalam menerjemahkan emosi, pengaruh budaya, dan pengalaman individu yang unik adalah jiwa seni yang tidak bisa ditandingi oleh algoritma,” ungkap Arsitek Senior dan Pendiri PT Arya Cipta Garaha, Cosmas Gozali, di Jakarta, Kamis malam, 30 April 2026.


img_title


Fakta Mengejutkan: 90 Persen Kode Mobil Otonom Kini Ditulis AI

Ia juga menekankan kepada seniman muda untuk menemukan dan menumbuhkan keindahan hati dan jiwa. Menjadi seorang arsitek bagi pria berusia 60 tahun ini adalah ketika merancang sebuah bangunan, sebaiknya sederhana dari luar, tetapi dari dalam memancarkan keindahan hati dan jiwa.

“Saya ingin setiap keindahan karya sebaiknya muncul dari dalam hati. Makanya, karya-karya arsitek yang mampu menghasilkan desain unik adalah yang memiliki ‘jiwa’, emosi. Bukan sekadar hasil replikasi mesin,” tuturnya.


img_title


3 Langkah Darurat agar Indonesia Tak Jadi Penonton di Era AI

Cosmas Gozali merupakan salah satu dewan juri dalam ajang Daikin Designer Award atau DDA 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh peserta dari empat negara di ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, serta tidak hanya diikuti oleh kalangan profesional, tapi terbuka bagi peserta mahasiswa.

Ia mengingatkan seluruh peserta agar tidak menggunakan tools AI dalam membuat desain karena jika terbukti maka dipastikan tidak lolos seleksi.

Lantas, bagaimana dirinya mengetahui kalau desain peserta buatan AI atau tidak?

“Wawancara langsung. Dari situ kita bisa melihat gesture, tatapan mata peserta, apakah menjiwai karyanya atau tidak. Kalau menjiwai maka akan terjadi proses berfikir dan bisa menjelaskan karyanya dengan detail, yang mungkin, di mata juri tidak terlihat. Beda jika menggunakan teknologi (AI), pasti tidak menguasai,” tegasnya.

Setiap kategori peserta yang ikut DDA 2026 memiliki kesempatan berlaga berdasarkan aplikasi bangunan, yaitu bangunan hunian dan bangunan komersial F&B. Tak hanya terbatas bagi karya terbangun, namun juga meliputi rancangan konseptual desain arsitektur maupun desain interior.

Halaman Selanjutnya





Source link

Example 300250
Example 120x600