Kamis, 18 Juni 2026 – 07:48 WIB
Jakarta, VIVA – Kualitas udara di Jakarta pada Kamis 18 Juni 2026 pagi kembali memburuk. Ibu kota menempati peringkat ketiga dalam daftar kota dengan tingkat pencemaran udara terburuk di dunia.
Data yang dirilis situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.05 WIB menunjukkan Air Quality Index (AQI) Jakarta berada pada angka 161. Angka tersebut menempatkan kualitas udara Jakarta dalam kategori tidak sehat dengan konsentrasi partikel PM2.5 mencapai 57 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa paparan udara di Jakarta berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif.
Selain berisiko terhadap manusia dan hewan yang rentan, kualitas udara yang buruk juga dapat memengaruhi tumbuhan serta menurunkan kualitas lingkungan secara umum.
Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada level tidak sehat. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah juga disarankan guna meminimalkan paparan polutan.
Selain itu, warga dianjurkan menutup jendela rumah atau bangunan agar udara kotor dari luar tidak masuk ke dalam ruangan.
Secara umum, kategori kualitas udara dibagi ke dalam beberapa tingkatan. Kategori baik berada pada rentang PM2.5 sebesar 0-50 dan dinilai tidak menimbulkan dampak bagi kesehatan maupun lingkungan.
Sementara kategori sedang berada pada rentang 51-100, yang umumnya masih aman bagi manusia tetapi dapat memengaruhi tanaman yang sensitif.
Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang PM2.5 sebesar 200-299. Pada level ini, risiko gangguan kesehatan meningkat bagi kelompok masyarakat yang terpapar. Sementara kategori berbahaya berada pada rentang 300-500 dan dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi secara luas.
Dalam daftar kota dengan kualitas udara terburuk dunia pada Kamis pagi, posisi pertama ditempati Kuwait City, Kuwait, dengan AQI 185. Delhi, India, berada di urutan kedua dengan indeks 169. Jakarta berada di posisi ketiga dengan AQI 161, disusul Kinshasa di Republik Demokratik Kongo dengan indeks 160 dan Johannesburg, Afrika Selatan, pada angka 156.
Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menyiapkan sistem peringatan dini kualitas udara atau Early Warning System (EWS).












