Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
Nasional

Perjanjian Dagang dengan AS jadi Lompatan Besar Industri Indonesia

14
×

Perjanjian Dagang dengan AS jadi Lompatan Besar Industri Indonesia

Sebarkan artikel ini
Example 468x60


Jumat, 27 Februari 2026 – 08:32 WIB

Example 300x600

Jakarta, VIVA – Wakil Ketua Umum DPP PKB, Faisol Riza, menilai perjanjian dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) sebagai langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.


img_title


AS Siap Gandakan Hulu Ledak Nuklir, Rudal Balistik Sentinel Jadi Senjata Baru Era Trump

Menurutnya, perjanjian bilateral tersebut justru membuka peluang besar bagi percepatan hilirisasi mineral nasional, yang selama ini menghadapi berbagai kendala, baik dari sisi investasi, teknologi, maupun akses pasar.

“Selama ini hilirisasi mineral kita masih menghadapi banyak tantangan. Dengan adanya perjanjian dagang Indonesia–Amerika, hilirisasi pasir silika sebagai bahan utama produksi chip atau semikonduktor berpeluang direalisasikan di dalam negeri. Ini lompatan besar bagi industrialisasi Indonesia,” kata Faisol dalam keterangannya, Jumat, 27 Februari 2026.


img_title


4 Tipe Karakter Debitur Pembiayaan Industri Otomotif

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Ia menjelaskan, pasir silika merupakan salah satu bahan baku penting dalam industri semikonduktor global. Melalui kerja sama ini, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemasok bagi perusahaan-perusahaan semikonduktor milik Amerika Serikat, sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.


img_title


Wamen Investasi Tegaskan AS Tetap Harus Investasi di Proyek Hilirisasi Mineral RI

 Riza juga menanggapi pandangan sejumlah pengamat yang menyebut bahwa perjanjian tersebut bukanlah sesuatu yang luar biasa karena Indonesia sebelumnya telah terlibat dalam berbagai perjanjian perdagangan seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN–China Free Trade Area (AC-FTA), maupun kerangka multilateral World Trade Organization (WTO).

Menurutnya, justru karena Indonesia sudah berpengalaman dalam perjanjian regional dan multilateral, maka pendekatan bilateral seperti ART memberikan ruang yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kepentingan nasional.

“Perjanjian bilateral memungkinkan evaluasi dan renegosiasi jika di kemudian hari terdapat klausul yang merugikan. Ini berbeda dengan perjanjian multilateral yang mengikat banyak negara dan jauh lebih kompleks untuk ditinjau ulang,” ujarnya.

Riza juga menegaskan bahwa perjanjian ini tidak membunuh industri nasional maupun IKM. Sebaliknya, pemerintah telah memastikan agar produk-produk industri nasional tidak ditempatkan dalam persaingan langsung dengan produk Amerika Serikat di pasar domestik.

Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump menandatangi perjanjian dagang

Photo :

  • Instagram.com/sekretariat.kabinet

Ia menyoroti fakta bahwa sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapatkan fasilitas tarif nol persen ke pasar Amerika. Sebelum perjanjian ini, produk-produk tersebut dikenakan tarif antara 8 hingga 12 persen.

Halaman Selanjutnya





Source link

Example 300250
Example 120x600