Sabtu, 4 Juli 2026 – 22:00 WIB
Jakarta, VIVA – PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), perusahaan pengelola sampah terpadu yang berada di bawah naungan Danantara Indonesia, memastikan akan mengoptimalkan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam proyek waste-to-energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi di berbagai daerah.
Langkah tersebut dilakukan seiring rencana pembangunan 33 fasilitas waste-to-energy di berbagai wilayah Indonesia yang diproyeksikan mampu menyerap hingga 130 ribu tenaga kerja mulai dari tahap konstruksi hingga operasional.
Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman, mengatakan partisipasi masyarakat lokal menjadi salah satu fokus utama perusahaan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya berorientasi pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
“Kami memastikan kolaborasi yang baik dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk dengan memaksimalkan penyerapan tenaga kerja lokal,” kata Fadli Rahman dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu, 4 Juli 2026.
Setiap Proyek Butuh Hingga 1.000 Pekerja
Danantara Indonesia memperkirakan setiap pembangunan fasilitas waste-to-energy membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 pekerja selama tahap konstruksi.
Dengan rencana pembangunan 33 fasilitas di berbagai daerah, total kebutuhan tenaga kerja mulai dari pembangunan hingga pengoperasian diproyeksikan mencapai sekitar 130 ribu orang.
Proyek tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat pengelolaan sampah nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat di berbagai wilayah.
Pengelolaan Sampah Jadi Tantangan Bersama
Fadli menilai persoalan sampah telah berkembang menjadi isu sosial sekaligus tantangan lintas generasi yang akan menentukan kualitas hidup masyarakat di masa mendatang.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut mendukung upaya pengelolaan sampah, baik melalui langkah sederhana maupun penerapan teknologi modern.
Menurutnya, dukungan masyarakat diperlukan mulai dari proses pengelolaan di tingkat hulu hingga hilir, termasuk membiasakan pemilahan sampah sebelum diproses lebih lanjut.
“Mari kita dukung setiap upaya yang memberikan solusi terhadap persoalan sampah di Indonesia,” ujarnya.
Budaya Memilah Sampah Dinilai Tetap Penting
Secara terpisah, pendiri Social Investment Indonesia sekaligus sustainability provocateur, Jalal, mengatakan pembangunan fasilitas waste-to-energy harus dibarengi dengan penguatan budaya memilah sampah di tingkat rumah tangga, sektor komersial, maupun industri.












