Sabtu, 9 Mei 2026 – 21:30 WIB
VIVA –Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio melakukan pertemuan diplomatic dengan Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni dan Pemimpin Gereja Katolik, Paus Leo XIV pekan ini. Pertemuan tersebut diketahui dalam rangka memperbaiki hubungan yang memanas antara Presiden Donald Trump dengan Giorgio serta Paus Leo.
Seperti diketahui beberapa waktu belakangan ini, Donald Trump melontarkan kritik keras kepada Paus Leo yang dinilainya membela Iran. Kritik yang disampaikan Trump kepada pemimpin gereja katolik itu juga mendapat kritik tajam dari Meloni.
Menariknya, dalam kunjungan kenegaraan yang dilakukan Rubio, dirinya tidak memberikan jaminan bahwa hubungan antara AS dengan Italia dan Vatikan. Dalam keterangannya di hadapan awak media Jumat sore waktu setempat, Rubio mengatakan bahwa Donald Trump kemungkinan tetap akan melontarkan kritik keras terhadap Meloni maupun Paus Leo jika pandangan mereka tidak sejalan dengan kebijakan AS terkait Iran dan isu lainnya.
“Presiden akan selalu berbicara secara terbuka tentang pandangannya terhadap Amerika Serikat dan kebijakan AS. Presiden Amerika Serikat akan selalu bertindak berdasarkan kepentingan terbaik bagi Amerika Serikat,” kata Rubio ketika ditanya apakah ia akan menyarankan Trump untuk mengurangi serangan verbalnya dikutip dari laman Washington Post, Sabtu 9 Mei 2026.
Pernyataan itu menjadi gambaran realistis saat Rubio menutup kunjungannya yang sebelumnya digambarkan Kemlu AS sebagai perjalanan penuh kehangatan dan hubungan kolegial. Media-media Italia juga melihat kunjungan tersebut sebagai upaya Washington memperbaiki hubungan setelah dalam beberapa pekan terakhir Trump menyebut Meloni dan Paus Leo sebagai sosok lemah karena mengambil jarak dari perang AS melawan Iran.
Rubio, yang merupakan penganut Katolik taat, membawa istrinya dalam pertemuan di Vatikan pada Kamis. Ia juga didampingi sejumlah staf lamanya dan Sergio Gor, duta besar Trump untuk India sekaligus teman dekat Rubio.
Dalam pertemuan itu, Rubio memberikan hadiah berupa bola sepak kristal berlogo Departemen Luar Negeri AS kepada Paus Leo. Sebagai balasan, Paus memberikan pena yang terbuat dari ranting zaitun dan menyebutnya sebagai tanaman perdamaian.












