Minggu, 28 Juni 2026 – 20:15 WIB
Jakarta, VIVA – Transformasi pelayanan kefarmasian rumah sakit berbasis digital dan inovasi menjadi fokus utama dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Himpunan Seminat Farmasi Rumah Sakit (HISFARSI) Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) yang digelar di Pekanbaru, Riau, pada 25–27 Juni 2026.
Mengusung tema “Building a Safer Healthcare System: The Pharmacist’s Role in Digital and Performance Innovation”, kegiatan nasional tersebut diikuti sebanyak 1.184 apoteker rumah sakit dari berbagai provinsi di Indonesia.
Forum ini menjadi ajang peningkatan kompetensi sekaligus ruang bagi para apoteker untuk merumuskan strategi penguatan pelayanan kefarmasian dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional.
Transformasi Layanan Farmasi Jadi Agenda Utama
Pelaksanaan PIT dan Mukernas HISFARSI 2026 menitikberatkan pada upaya memperkuat pelayanan kefarmasian yang lebih inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berorientasi pada keselamatan pasien.
Acara pembukaan dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto, Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Dr. L. Rizka Andalucia, serta Ketua HISFARSI Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia apt. Drs. H. Ruslan M. Rauf, M.Kes.
Plt Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Pekanbaru sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan nasional tersebut.
Menurutnya, forum ilmiah itu menjadi momentum penting untuk memperkuat kompetensi tenaga kefarmasian dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan yang terus berkembang, khususnya di era digital.
“Kami mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi atas penyelenggaraan PIT dan Mukernas HISFARSI PP IAI di Kota Pekanbaru. Semoga kegiatan ini mampu membawa kemajuan bagi dunia farmasi, khususnya di Pekanbaru dan Provinsi Riau,” ujarnya.
Kompetensi Apoteker Dinilai Semakin Penting
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar menilai peningkatan kompetensi apoteker menjadi kebutuhan penting dalam mendukung pengelolaan obat yang semakin baik di fasilitas pelayanan kesehatan.
Ia menyoroti masih adanya tantangan dalam manajemen obat, termasuk pengelolaan obat kedaluwarsa, sehingga peningkatan kapasitas tenaga kefarmasian dinilai menjadi bagian penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat.












