Minggu, 17 Mei 2026 – 13:38 WIB
Jakarta, VIVA – Starbucks kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawai korporatnya di Amerika Serikat. Perusahaan kopi global itu juga akan menutup sejumlah kantor dukungan regional sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis.
Starbucks mengumumkan akan memangkas sekitar 300 pekerjaan di Amerika Serikat. Perusahaan menegaskan PHK tersebut tidak berdampak pada karyawan gerai atau barista.
Selain itu, Starbucks juga mulai meninjau tenaga kerja korporat internasionalnya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis yang dijalankan CEO Starbucks, Brian Niccol.
“Kami mengambil langkah lebih lanjut dalam strategi Back to Starbucks, membangun momentum bisnis yang kuat dan bekerja untuk mengembalikan perusahaan pada pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan,” kata juru bicara Starbucks sebagaimana dikutip dari CNBC, Minggu, 17 Mei 2026.
“Para pemimpin telah meninjau secara mendalam fungsi masing-masing untuk mempertajam fokus, memprioritaskan pekerjaan, mengurangi kompleksitas, dan menekan biaya,” lanjut pernyataan tersebut.
Perusahaan memperkirakan biaya restrukturisasi mencapai US$400 juta atau setara sekitar Rp6,8 triliun dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS. Dari jumlah tersebut, sekitar US$280 juta atau setara Rp4,76 triliun akan dicatat sebagai beban non-tunai terkait penurunan nilai aset jangka panjang. Sementara US$120 juta atau sekitar Rp2,04 triliun merupakan biaya tunai yang berkaitan dengan PHK.
PHK kali ini menjadi gelombang ketiga sejak Brian Niccol memimpin Starbucks. Pada Februari 2025, perusahaan mengumumkan pengurangan 1.100 pekerjaan dan tidak mengisi ratusan posisi kosong lainnya.
Tujuh bulan kemudian, Starbucks kembali memangkas sekitar 900 pekerja nonritel sebagai bagian dari rencana restrukturisasi senilai US$1 miliar atau setara Rp17 triliun.
Berdasarkan dokumen regulator per September 2025, Starbucks memiliki sekitar 9.000 pekerja nonritel di Amerika Serikat dan 5.000 pegawai internasional di fungsi operasional dukungan regional.
Di tengah langkah efisiensi tersebut, Starbucks mulai mencatat perbaikan kinerja bisnis di pasar Amerika Serikat. Perusahaan sebelumnya menghadapi tekanan akibat persaingan yang meningkat dan konsumen yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka.
Selama masa kepemimpinan Niccol, Starbucks melakukan sejumlah perubahan, termasuk memperbaiki operasional gerai, menghadirkan menu baru, mengembalikan area tempat duduk di gerai, serta menambah jumlah staf di kedai kopi.












