Jumat, 29 Mei 2026 – 18:06 WIB
Jakarta, VIVA – Nilai tukar yen Jepang kembali melemah mendekati level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat. Kondisi ini terjadi ketika pelaku pasar menunggu data resmi pemerintah Jepang terkait besarnya dana intervensi yang digelontorkan untuk mempertahankan mata uang tersebut.
Pada perdagangan Jumat pagi waktu Tokyo, yen bergerak di kisaran 159,25 per dolar AS setelah sempat menguat usai intervensi pemerintah Jepang pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Namun, sebagian besar penguatan tersebut kini mulai menghilang. Pelemahan yen kembali memicu kekhawatiran pasar bahwa upaya intervensi pemerintah belum cukup kuat untuk membalikkan tren depresiasi mata uang Jepang.
“Berdasarkan analisis terhadap laporan keuangan Bank of Japan (BOJ), pemerintah Jepang diperkirakan telah menghabiskan hingga ¥10 triliun atau sekitar US$63 miliar setara Rp1.121 triliun untuk menopang yen,” demikian sebagaimana dikutip dari TradingView, Jumat, 29 Mei 2026.
Jumlah tersebut menjadi salah satu intervensi mata uang terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut juga mengonfirmasi bahwa intervensi memang dilakukan pada 30 April.
Pergerakan pasar selama libur Golden Week hingga 6 Mei juga menunjukkan indikasi kuat adanya aksi pembelian yen oleh pemerintah Jepang.
Kementerian Keuangan Jepang dijadwalkan merilis data resmi intervensi periode 28 April hingga 27 Mei pada Jumat malam waktu setempat. Meski tidak akan memuat rincian harian hingga Agustus mendatang, angka total yang diumumkan diperkirakan akan menjadi perhatian utama pasar global.
Pelaku pasar menilai besaran dana intervensi akan menentukan arah pergerakan yen berikutnya. Jika nilainya jauh di atas ¥10 triliun, pasar bisa mempertanyakan efektivitas intervensi karena yen kini kembali mendekati level terlemah.
Sebaliknya, jika nominal intervensi ternyata lebih kecil, investor kemungkinan akan menganggap pemerintah Jepang menggunakan strategi bertahap atau “drip-feed intervention” untuk menjaga pasar tetap stabil.
Menteri Keuangan Jepang Katayama juga disebut mulai jarang memberikan komentar terkait pergerakan yen dalam beberapa hari terakhir. Analis melihat pola ini mirip dengan situasi menjelang intervensi besar akhir April lalu ketika dolar AS sempat menembus level 160 yen sebelum akhirnya anjlok tajam.












