Rabu, 20 Mei 2026 – 10:36 WIB
Jakarta, VIVA – Kehadiran mobil Plug-in Hybrid Electric Vehicle atau PHEV mulai semakin ramai di Indonesia. Teknologi yang menggabungkan mesin bensin dan motor listrik tersebut kini menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan elektrifikasi tanpa sepenuhnya bergantung pada mobil listrik murni.
Meski mulai banyak dipasarkan, masih ada sejumlah anggapan keliru terkait mobil PHEV. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap teknologi ini rumit, boros, hingga kurang cocok digunakan di Indonesia.
Disadur VIVA Otomotif dari Slashgear, Rabu 20 Mei 2026, salah satu mitos yang paling sering muncul adalah mobil PHEV dianggap boros karena memiliki mesin bensin sekaligus motor listrik. Padahal dalam penggunaan normal, konsumsi bahan bakar PHEV justru bisa lebih efisien karena kendaraan dapat berjalan menggunakan tenaga listrik dalam kondisi tertentu.
Anggapan lain menyebut mobil PHEV harus selalu diisi daya setiap hari agar bisa digunakan. Faktanya, mobil PHEV tetap dapat berjalan seperti kendaraan hybrid biasa meski baterai listriknya belum diisi ulang.
Masih banyak pula yang mengira mobil PHEV tidak cocok dipakai perjalanan jauh. Padahal teknologi ini justru dirancang untuk memberikan fleksibilitas karena kendaraan tetap memiliki mesin bensin sebagai sumber tenaga tambahan saat baterai habis.
Mitos lain yang cukup sering terdengar adalah PHEV dianggap sama dengan hybrid biasa. Perbedaan utama keduanya terletak pada kapasitas baterai dan kemampuan pengisian daya eksternal yang memungkinkan PHEV melaju lebih jauh menggunakan tenaga listrik.
Sebagian konsumen juga khawatir soal umur baterai mobil PHEV yang dianggap cepat rusak. Namun produsen otomotif umumnya sudah membekali kendaraan elektrifikasi dengan sistem manajemen baterai dan garansi khusus untuk menjaga ketahanannya.
Ada pula anggapan bahwa mobil PHEV tidak aman digunakan saat hujan atau banjir. Padahal kendaraan elektrifikasi modern sudah dilengkapi sistem proteksi baterai dan kelistrikan yang dirancang memenuhi standar keamanan tertentu.
Dari sisi performa, mobil PHEV juga kerap dianggap kurang bertenaga dibanding mobil konvensional. Faktanya, kombinasi motor listrik dan mesin bensin justru dapat menghasilkan akselerasi instan yang lebih responsif pada beberapa model.












